(Cerpen) Sepasang Sepatu

Di pagi dimana matahari mulai merangkak untuk menunjukkan sinarnya. Berjalan menapak setiap blok pedestrian ini didekat danau, sesekali terdengar langkah sendiri. Didekat danau melangkah menuju mushala. Susah untuk mengikhlaskan pagi ini dengan tidak shalat dhuha. Dan perkenalkan, aku adalah Kuning.

Persiapan pagi ini sungguh berbeda dari hari biasanya. Dia mencuciku kemarin, hingga sekarang aku segar kembali. Serasa aku adalah yang paling gembira dari pada yang lain. Dan aku sudah siap untuk melangkah.

“Eh, dia datang, kemarilah, aku sudah siap menemani harimu.” ujarku pagi itu.

Tak terasa, sepertinya harimu sungguh akan menyenangkan hari ini, terlihat gembira dari caramu menyimpulkan ku pagi ini. “Ada apa gerangan?” tuturku untuk diriku sendiri. “Akankah menjadi hari yang berbeda pula? Namun, entahlah.” aku akan menantinya.

Angin berhembus sejuk saat melintasi danau. Dia membawaku santai pagi ini, seperti biasanya. Cahaya pagi ini sungguh indah, yang terkadang berselng dengan bayangan dedaunan. Sesekali terasa silau kala menengok ke atas. Sungguh terasa nikmat Allah yang sangat besar ini. Sesekali terdengar sendandungnya tanpa kata. Membuat pagi-pagi ku terasa nyaman ketika dia membawaku.

Tiba-tiba langkahnya menjadi pelan, dan tampak wajahnya seperti berfikir ringan.

“Berbicara mengenai cinta, maka bolehkan wanita mendambakkan seorang pria?” ujarnya dengan rok panjangnya disela-sela perjalananya, pelan.

Terkejutlah aku, baru pertama kali dia berbicara aneh seperti ini. Memang, dia sering berbicara dengan Allah disetiap kesendirianya. Namun, kali ini dia seolah berbicara dengan dirinya sendiri.

“Sebenarnya aku menyukai seseorang. Namun..” ujarnya.

“Kayaknya dia ngelamun nih, aneh banget!” ujarku, heran.

“Eh.. Dia..” ujarnya pelan. Dia terkejut tiba-tiba, langkanya terhenti dipelataran depan mushala, dan aku menjadi sedikit sakit karenanya. Saat kutahan sakit itu, terlihat di depanku sepatu merah, dia sedang diikat olehnya.

“Dia.. Dialah yang aku sukai..” Ujarnya semakin pelan. Aku semakin terkejut, ternyata dia menyukai si merah. Langkahnya seolah ragu untuk melangkah lagi atau tidak. Dia kalah dengan rasa terkejutnya. Kakinya seakan ikut merasa bimbang mengeikuti jejak hati. Terlihat dia membawaku maju sedikit demi sedikit seakan tertahan sesuatu, ragu.

Aku tahu dia yang pendiam, sedikit pemalu, tidak banyak bicara. Seolah tegar dengan keadaan dimana waktu demi waktu ketika kesulitan datang. Dalam diamnya ternyata dia menyimpan rahasia. Rahasia akan perasaan yang terus menumpuk. Hingga mungkin hatinya sudah tidak mampu membendung lagi semua rasa itu.

“Inilah saatnya? inilah waktunya?” ujarnya berbisik.

Kakinya tertahan, gemetar seolah bimbang semakin kuat mengisi. Mungkin ini yang membuatnya semakin yakin bahwa cinta itu memang harus diperjuangkan atau tidak. Pengungkapan akan warna hati menjadikanya lemah.

Secara tiba-tiba aku dihentakkanya secara cepat. Ternyata dia melangkah untuk mendekati rak, dan aku terkejut. Dilepasnya kakinya dariku, dan aku perih. Seolah tidak mengiraukan sekelilingnya, termasuk aku. Jelas, bimbang menuntunya untuk berbuat seperti itu.

Dan kulihatnya dia masuk kedalam mushalla.

Setelah menunggu beberapa lama untuk Dhuha pagi itu, ternyata dengan sayup-sayup terdengar doanya. Pelik ku mengingatnya, tapi sedikit aku mengerti akan perasaanya. Mungkin agak lupa akan ku coba ceritakan.

“Yaa Allah, maafkanlah diriku karena ini. Salahkah bila wanita mencintaai seorang pria? mendamba laki-laki yang akan menuntunya?”

“Telah ku serahkan kepadamu yaa Allah, karena aku mencintainya”

“Dekatkanlah dia bila dia adalah jodoh yang tepat untukku yaa Allah. Dan ikhlaskan hati ini yaa Allah kalaulah dia bukan jodohku. Sesunggunya pilihan Mu adalah yang terbaik.”

Harusnya aku sadar akan itu jauh hari yang lalu. Setiap waktu aku bersamanya dikala pagi untuk menyambut dhuha. Dia selalu  bertemu pria itu. Berpapasan denganya di sebuah tangga. Seolah dia tidak peduli. Tetapi, setelah melewatinya, langkahnya terhenti. Terhenti dan seolah ingin menanti akan sesuatu itu. Seolah “Menatapnya pun dia tidak berani.”. Pandangan nya bahkan lebih terhormat dari cintanya. Pemikiranya bahkan lebih mulia dari cintanya. Luar biasa.

Aku adalalah wanita yang pendiam, pemalu dan katanya terkesan unyu. Manis, kata ibuku. Suka berbicara dengan hatiku sendiri, karena disetiap kata yang kusampaikan untuk diriku sendiri selalu kuselipkan doa-doa. Biarlah Allah yang tau akan hati dan perasaanku. Karena Dia lah yang aku cintai selalu.

-The theater of mind-

(Start)

Berbicara mengenai cinta, maka bolehkah wanita mendambakkan seorang pria, yang dia yang kusukai..

diaaa.. yang kusukai..

Dia selalu menjaga dhuhanya..

Dan aku yang tak berani menatapnya.

harus kah aku sapa?

Ya Allah , Aku mencintainya

Pak Ustad!

* Ya Merah, kenapa?

Kenal mahasiswi yang bernama kuning?

(Finish)

#Fiksi #Ceritapendek

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s