Cerita mereka yang berjuang mencintai Al Quran

 

DSC_0365
Al Quran

 

Suatu saat saya datang pada suatu acara pengesahan program di suatu masjid di Taiwan. Ternyata di Taiwan, Islam merupakan agama minoritas yang sudah exist dari berdirinya negara ini. Bahkan sampe sekarang pun masih ada exsistensi islam di Taiwan. Bagi BMI (Buruh Migran Indonesia/ Red. TKI) islam merupakan agama yang mereka bawa serta kontribusikan walaupun mereka tidak sadar akan hal itu. Namun, ada beberapa dari mereka yang sadar akan Islam -nya, berusaha menjadi orang yang beruntung dengan terus mendekatkan diri kepada Allah SWT.

Masjid Longgang menjadi pusat kegiatan islam bagi warga lokal dan BMI di sekitar Zhongli, Taoyuan. Pada waktu itu ada pengesahan program one day one juz di masjid ini. Terlihat beberapa BMI yang berpartisipasi untuk meramaikannya. One day one juz merupakan program baru bagi masyarakat indonesia di Taiwan yang dikelola oleh teman-teman BMI.

Ada beberapa cerita yang menarik dari penglaman teman-teman BMI yang coba mereka share untuk audience yang hadir. Pada dasarnya mereka (BMI) merupakan WNI yang bekerja di Taiwan yang memiliki jam kerja yang padat. Ada sebagian mereka yang bekerja sebagai operator di pabrik, asisten rumahtangga, costumer service, dll. Pada umumnya mereka bekerja sekitar 8 jam sehari, namun bnyak dari mereka yang mengambil extra time untuk menambah uang bulanan mereka.

Cerita mereka dengan susah payah mengamalkan Al Quran.

Di satu sesi berbagi pengalaman, ada seorang akhwat yang mencoba share tentang kehidupan beliau di Taiwan. Dia adalah seorang asisten rumah tangga yang bekerja di suatu keluarga. Tugas nya ialah untuk membersihkan lantai, mencuci dll. Keluarga tersebut memberikan jadwal yang padat dan sangatlah mepet. Mulai dari sebelum subuh diharuskan bangun, untuk shalat saja masih curi-curi waktu untuk shalat subuh dari penuturan beliau. Memang tidak semua owner membolehkan karyawanya untuk mengerjakan shalat apalagi bagi asisten rumah tangga. Hal tersebut merupakan hal yang ‘perlu’ di-ladzim-i dikarenakan perbedaan Aqidah dan tidak pahamnya mereka (owners) akan agama kita. Dengan hal tersebut bukan lah alasan bagi kita untuk meninggalkan kewajiban kita. Tetapi tidak semua owner memiliki cara pandang yang sama dalam memperlakukan pekerjanya perihal ibadah.

Dalam kasus ini, beliau menuturkan untuk membca alquran saja bisa dia sempatkan di waktu subuh dengan keadaan sembunyi-sembunyi dah waktu itu hanya bisa mengamalkan surah Yasin. Seringnya di baca waktu subuh, diapunhafal surat Yasin tersebut. Hingga ada program one day one juz tersebut, dia memutuskan untuk bergabung dan berusaha mengamalkanya. Dengan waktu yang sangat padat karena saking terbatasnya, hingga teguran owner tidaklah membuat dia melunakkan niatnya. Itu semua terurai dengan derasnya air mata yang keluar. Dengan kerasnya isak-isak tangisnya. Dengan tersendat-sendat nafasnya mencoba menahan emosi yang sedang merangsek keluar. Hidup memanglah keras, banyak dari mereka yang mengais rezeki sebagai asisten rumah tangga harus menghadapi keterbatasan-keterbatasa dalam hal menunaikan ibadah.

Refleksi diri

Tidak bisa dipungkiri saya ini memanglah dalam prosess belajar. Proses belajar akan sangat membutuhkan motivasi diri yang hebat, tanpa itu maka prosess tidak akan berjalan. Sebagai orang yang memiliki aktivitas yang cukup padat, saya sangatlah salut dan apresiasi kepada mbaknya yang telah bercerita mampu dengan baik mengelola waktunya, walaupun ada tekanan. Ini membuktikan bahwa dalam kondisi apapun kita harus mampu menyempatkan waktu dan tenaga kita untuk membaca kitab Allah yaitu Al Quran.

Kecintaan dan keistiqomahan yang patut kita teladani yang sangat mampu untuk memupuk rasa rindu akan Al Quran. Kesempatan-kesempatan ini lah yang harus nya kita tunggu-tunggu untuk memompa semangat kita kembali kepada Nya. Sesungguhnya Al Quran itu sendiri lah semnagat dan motivasi, ada terdapat didalamnya. Sungguh indah bila kita mau membaca artinya, dan sangat komplit dan lengkap apabila kita mampu menambahnya dengan beberapa tafsir.

Banyak dari mereka menceritkan bahwa Al Quran adalah salah satu kekuatan mereka. Al Quran yang menguatkan mereka. Mereka menyempatkan waktu untuk mengamalkan yang mereka bisa, dalam kesempitan waktunya dan dalam kesibukanya dan dalam lelahnya. Sungguh Allah Maha Melihat apa yang makhluknya lakukan.

Saat mendengarkan itu, sepertinya kata-kata yang terucap dan motivasi-motivasi yang tersirat, ada hanyalah untuk menjadi tamparan pedas untukku. Semoga kita mampu belajar bagaimana memanfaatkan waktu untuk hal yang produktif dalam pandangan Allah SWT.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s