Menutup cerita THR Sriwedari, akhirnya Mati dan Terkenang

Penutupan Taman Hiburan Rakyat (THR) Sriwedari merupakan hal yang sebetulnya membuat saya menyikapinya ‘lumrah’. Mengesampingkan adanya konflik atas lahan itu oleh pemerintah kota dengan keraton yang tiada akhir, membuat saya sedih dimana ego dikedepankan untuk hal yang bersifat ‘dunia’ ini. Tapi ya sudah lah ini bukan masalah yang seharusnya jadi rumit dan patut untuk di perpanjang lagi. Akhir dari kisah itu adalah pembongkaran.

Awalnya saya membaca status dari sepupu yang memberikan pandangan dan ceritanya setelah mengetahui berita ini. Saya tak mau kalah, karena saya juga punya kenangan. Kenangan yang sungguh berharga bersama keluarga.

http://solo.tribunnews.com/2017/10/12/32-tahun-jadi-ikon-solo-thr-sriwedari-bubar-akhir-tahun-ini-dan-phk-seluruh-karyawannya

Sangat sedih memang setelah membaca berita itu, hilangnya salah satu icon kota tercinta, Solo. Suatu bangunan tempat yang terbilang tua dan menjadi favorit di zamanya tahun 90-an kini telah tinggal cerita bahwa tempat itu dulu pernah ada. Salah satunya tempat hiburan rakyat Solo yang dikalahkan oleh waktu dan kini tinggal menggu akhir hayatnya. Sungguh miris. Tapi zaman harus terus berjalan memakan semua yang tidak sesuai jalanya.

Kenangan. Itu saja yang teringat terus hingga kini tentang THR Sriwedari. Wisata keluarga yang dulu terbilang cukup mahal. Ketika itu saya masih kecil umur belum menyentuh dua digit, merengek sama bapak dan ibuk untuk pergi kesana. Mesti jawabnya ‘ora sah, larang mbayare!’. Mahal dahulu itu kesanya. Tapi kadang-kadang mereka kalah sama rengekanku. Pergilah kesana. Wahana favoritku dulu itu adalah mobil senggol. Akhirnya beberapa kali rengekanku berhasil. Teringat ketika itu bersama Alm. Bapak ku, dia yang menemaniku ngebut tak beraturan sambil sikat sana, sikat sini, senggol-senggolan dengan yang lain. Suatu ketika pas senggolan, sirahku kejedot, kayaknya hampir nangis akunya. Tapi cada tawa bapak tetap teringat untuk menangkan ku. Oh menyenangkanya..

Ibuk nda mau kalau suruh nemenin naik mobil senggol. Dia maunya masuk rumah hantu. Asik lho beneran, aku pernah masuk, nemenin ibuku sih. Soalnya ibuk sukanya rumah hantu itu, lha aku nda suka e, jadi nemenin aja, tapi merem. Wedi. Tapi bagus kok setanya, lucu-lucu. Wahana favorit ibuku ini cukup duduk saja di kereta, nanti keretanya yang muter. Entah sekarang masih pake kereta2-an apa nda. Ngomong masalah kereta, ada juga kereta mini, favorit ku juga lho, kereta mininya lewat rel beda sama yang lain yang pake roda. Kalau lewat wahana itu, mesti, ngerengek pingin naik itu. Meski dibilang mahal dan ditambah berbagai alasan tetap dengan jurus mewek selalu berhasil. Ahli strategi mau dilawan, hehe. Alhasil naiklah dan heppy lah pokoknya. Kalau kereta ini, ibuk yang nemenin. Bapak nganggur. Ben.

Terbitlah saat itu wahana baru, roller coaster. Wuihh. Terkenal lho. Mirip ulet ijo tapi tonggos giginya. Sampe-sampe temen-temenku saat itu di SD pada ngomongin. Saat itulah persaingan dimulai, persaingan berbagi pengalaman pernah naik dan siapa yang duluan bisa bercerita, dialah speakernya. Gengsi mulai naik. Tapi aku biasa wae. Jaim. Dan sebetulnya aku nda begitu peduli, takut soale. Lha, Tapi ternyata ibuku sing antusias. Nda perlu ngerengek, singkat kata kita sampai lokasi. Antre saat itu, seingetku sih, agak lupa. Liat wahananya yang ternyata ngeri untuk anak seumuranku (pikirku), alhasil ngerengek emoh naik. Tapi kali ini, saya mengakui, ibuk punya strategi yang lebih bagus. Entah lupa alasan dia waktu itu. Deg degan juga saat itu. Cemas. Naik dan duduk dibangku. Lemas. Mulai lah menanjak dia. Berusaha tenang. Pegangan erat-erat. Meluncurlah kita. Berawal dari ketakutan ternyata setelah dirasa menyenangkan juga dan asik, ga jauh beda sama mobil senggol yang membuat badan terlempar kesana-kemari. Semenjak saat itu aku putuskan itu menjadi wahana favoritku dan aku baru tau ternyata ibuk suka wahana yang menantang. Wah kenangan ini..

Spesifiknya kelas 4 SD, kesenian mulai menjadi dambaan. Ternyata sekolah sedang mencari bibit unggul untuk lomba menggambar dan mewarnai dan tempatnya adalah di THR Sriwedari beberapa bulan kedepan. Disuruhlah menggambar dan alhasil aku adalah the choosen one. Banyak yang sirik juga ternyata, masih SD genggi masih tinggi, perang psikologis harus kuhadapi. Siapa takut kalau berantem ya ayoo aja, tapi ya sambil nangis, hehe. Tapi bukan itu intinya. Hari H sudah tiba, kita berangkat bertiga. Sungguh bahagianya bisa berkunjung ke Sriwedari, bisa naik roller coster, mobil senggol. Jujur saja, itu lah tujuan dari lubuk hati yang paling dalam, sama sekali tidak terfikirkan tentang lomba menggambar dan mewarnai. Fokus pun berubah. Melenceng dari tujuan mulia mengharumkan nama SD ku. Alhasil, agenda ku pun digagalkan oleh Ibu. Kecewa. Suram. Apa daya, aku pun harus mengakui planning tanpa strategi ini. Hehe. Sungguh hebat serangan psikologis para panitia untuk ku. Apalah aku hanya seorang anak SD. Lanjutlah lomba itu, pensil, krayon pun sudah saya siapkan, imajinasi mulai liar, hanya roller coster yang terbayang. Akhirnya, dua buah gunung menjepit matahari yang dibawahnya jalan bengkong ditengah pematang sawahpun tercipta. Tak lupa ku tambahkan beberapa pohon kelapa, sebagai bukti bahwa kelapa tidak hanya tumbuh di bibir pantai, namun juga di pematang sawah. Ini adalah ide absurb setelah 18 tahun kejadian itu berlalu. Saya baru sadar. Oh sungguh, warna warninya saat itu..

Tergeruslah oleh jaman, taman Sriwedari ini. Saya sebagai suporter masa lalu, tak bisa berbuat apa-apa. Memang seperti quote dari Ali bin Abi Thalib Ra bahwa berharap pada manusia adalah sia-sia dan mengecewakan. Kini jaman sudah berubah kondisi kota Solo yang semakin modern sangatlah layak bahwa taman Sriwedari sudah tidak bisa bertahan lagi tanpa campur tangan sang Pengemban Amanah. Orang tua jaman sekarang logisnya lebih memilih memberikan hiburan yang berupa gadged (smartphone, laptop, tab) dan seandainya bertamasya pasti memilih pergi ke waterboom. Telah dibuka beberapa tahun yang lalu waterboom Arjuna yang terletak di Solo Baru, Sukoharjo yang berjarak sekitar 20 menit kalau ndak macet bahkan kurang dari itu. Ditambah lagi geliat wisata alam yang ada di karanganyar dan semakin bervariasinya wisata di Jogja membantu menyamarkan keberadaan THR Sriwedari. Sempat saya dengar bahwa di THR Sriwedari sering digunakan untuk pentas dangdut. Sungguh miris sekali mendengarnya. Karena memberikan tontonan yang tidak banyak kemaslahatanya. Semoga ini merupakan jalan terbaik untuk Sriwedari.

Katanya taman ini nantinya akan berubah menjadi Masjid Besar. Semoga niat ini menjadi jalan yang lebih baik bagi kota Solo tercinta menuju peingkatan keberkahan. Sungguh kenangan-kenangan itu lah yang saya punya dan bisa saya bagikan kepada pembaca sekalian. THR Sriwedari. Menjadi warna kenangan di masa lalu bersama keluarga.

Mahendra.

Sumber

http://solo.tribunnews.com/2017/10/12/32-tahun-jadi-ikon-solo-thr-sriwedari-bubar-akhir-tahun-ini-dan-phk-seluruh-karyawannya

http://thrsriwedarisolo.com/halaman.php?laman=wahana

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s